MENGENAL DESAIN FASHION

Desain fashion adalah ide dan kreasi pakaian , aksesoris, dan sepatu. Pakaian berarti pakaian atau pakaian yang dikenakan. Kadang-kadang mengacu pada jenis pakaian tertentu, seperti pakaian bisnis atau formal. Masyarakat umum mungkin memandang desain fesyen sebagai sesuatu yang tidak berdampak pada kehidupan sehari-hari. Namun, setiap pakaian dirancang oleh seseorang, di mana pun pakaian atau aksesori tersebut dibeli. Ada banyak komponen desain fashion yang harus diperhatikan oleh para desainer. Beberapa komponennya antara lain pembuatan ide, pembuatan sketsa dan penyelesaian desain, pengawasan produksi garmen, dan pemasaran garmen sebagai bagian dari koleksi atau di pameran dagang. Perancang busana juga harus memahami konstruksi garmen, kesesuaian, tren, dan taktik pemasaran. Bergantung pada keahlian, bakat, dan ketenaran mereka, desainer akan berinteraksi dengan orang lain untuk memasarkan dan menjual ide dan desain mereka.

Desainer harus memahami elemen dasar seni seperti garis, bentuk, warna, nilai, dan tekstur. Istilah "garis" dalam desain busana mengacu pada bagian tepi pakaian dan garis interior, seperti kerah, detail, saku, dan garis pada kain. Bentuk mengacu pada bentuk dasar pakaian; misalnya rok A-line memiliki bentuk 'A'. Warna sulit untuk didefinisikan, namun dapat dipahami secara universal. Warna sangat penting dalam desain busana karena warna memengaruhi suasana hati dan kehadiran serta sangat dipengaruhi oleh tren. Nilai atau tingkat terang atau gelapnya kostum atau pakaian juga bisa menjadi penting. Setidaknya seorang desainer harus sadar akan nilai, apakah pakaiannya netral atau berwarna. Terakhir, tekstur sangat penting dan memengaruhi bahan yang dipilih untuk desain. Perubahan tekstur, seperti jaket tweed bertekstur dengan tas mengkilat, menambah daya tarik dan daya tarik pada kostum atau ansambel. 

(1) Judul : METODE PROSES DESAIN DALAM PENCIPTAAN FASHION DAN TEKSTIL

Penulis : INDARTI

Edisi : Tahun 2020

Kesimpulan : 

Pada kesimpulan artikel diatas proses desain telah dieksplorasi di banyak disiplin ilmu, termasuk desain interior, teknik, perencanaan lingkungan arsitektur, tekstil dan pakaian. kesimpulan pada  penulisan  artikel  diatas adalah menyajikan macam-macam metode proses  desain dalam bidang    desain  mode  yang  telah  dimuat  di  jurnal internasional ranking  Q1  dan  Q2  berdasarkan Scimago  Journal  &  Country  Rank. Berdasarkan review beberapa  artikel diperoleh  tiga  macam metode  proses  desain.  Metode  pertama  yaitu kerangka konseptual  desain  pakaian(apparel design framework),tiga tahap proses desain(a three-stage design process), dan model berlian ganda (double diamond model). Kerangka konseptual  desain  pakaian (apparel design framework),terdiri  dari 6  thap: identifikasi   masalah, ide-ide   awal,   perbaikan desain,   pengembanga  prototipe,   evaluasi,   dan implementasi. Pada metode  pertama   ini   juga   membahas   kriteria   dalam  membuat   pakain berdasarkan  kebutuhan  pengguna  yang  disingkat  sebagai  FEA  (Fuctional, Expressive,Aesthetic).Metode  kedua  adalah  tiga  tahap  proses  desain,  yang  meliputi:  definisi  masalah  dan  penelitian, eksplorasi  kreatif  dan  implementasi.  Metode  ketiga  adalah double  diamond  model yang  meliputi empat tahap yaitu: menemukan, mendefinisikan, mengembangkan, dan menyampaikan.Tiga  metode proses  desain  tersebuttelah  digunakan  oleh  beberapa  peneliti dalam  bidang desain modemaupun bidang desain produk yang lainmulai tahun 1992 hingga saat ini. Metode-metodetersebut dapat menjadi  alternatif  dalam  menulis  metode  dalam  artikel  ilmiah  bagimahasiswa  desain  mode  di  Indonesia.  Ketiga  metode design  processtersebut  dapat  diadopsi dalam metode penelitian desain mode (fashion design research) baik dalam menciptakan produk fashion maupun profuk tekstill.

(2) Judul : Fungsi Ornamen dalam Pengembangan Desain Fashion: Studi Kasus Ornamen Karawodi Gorontalo (The Function of Ornament  in the Development of Fashion Designs: Case Study of Karawo Ornament in Gorontalo)

Penulis : I Wayan Sudana

Edisi : Tahun 2019

Kesimpulan : 

Kesimpulan dari artikel diatas ornamen   memiliki  beragam   fungsi   yang  berkontribusi   dalam  pengembangan   desain fashion. Pada kasus ornamen karawo, beragam fungsi ornamen dan perannya dalam pengembangan desain fashionmeliputi: 1) fungsi dekorasiberperan dalam menambah  nilai estetik dan  daya tarik mode busana;  2) Fungsi penanda identitasberperan dalam  menunjukkanidentitas  sosialatau identitas   individu  pemakai   busana;   3)fungsi   representasi   kekayaan  alam   berperan dalam menghasilkan  gaya  deatil  busana  yang  dekat  dengan  lingkungan;  4) fungsi  membangkitkan kenangan berperan dalam menghasilkan corak-corakbusana yang mencitrakan masa lalu; 5) fungsi simbolikberperan dalam mengomunikasikan nilai-nilai yang menjadi pakai busana merasa bangga dan  lebih  percaya  diri.Dengan  demikian,  penerapan  ornamen  dengan  beragam  fungsinya  itu berkontribusi  dalam  melahirkan  berbagai corak  atau gaya  detail  busana,  sehingga  desain fashionmampu  berkembang  lebih  dinamis,  sesuai  dengan  tren  dan  dinamika  permintaan  konsumen  atau pasar. Fungsi simbolik ornamen karawo tersebut mirip  dengan   fungsi  ornamen   untuk mengomunikasikan makna yang dikemukan Glaveanu (2014: 89), bahwa ornamen memiliki fungsi penting  untuk mengomunikasikan  makna  kepada  audiens  dan  pengamat  potensial.Dengan  fungsi simboliknya itu, ornamen menguatkan dan melengkapi objek yang menghubungkan bentuk fisik ke konten metafisik (Criticos 2004, 193).Dalam pengembangan desain fashion,pemanfaatan ornamen simbolik  sebagai  ragam  hias tidak  saja  akan  menambah  keragaman  gaya  detail  busana,  tetapi berpeluang  meraih  konsumen-konsumen  khusus  yang  ingin  mendapat  dan  mengomunikasikan nilai-nilai lebih dalam dari busana yang dikenakan. Dengan begitu, jumlah dan corak busana akan berkembang lebih dinamis dan mampu memenuhi beragam selera konsumen. 

Beragam fungsi ornamen karawodan perannya dalam pengembangan desain fashionyang ditemukan itu,berkontribusi dalam menambah wawasan dan memperdalam pemahaman kita dalam memaknai luasnya peran ornamenbagi dunia fashion, yang selama ini cenderung hanya dipandang sebagai  elemen  hias  untuk  kesenangan  visual.  Bagi  para  desainer fashion, temuan  tersebut berpeluang  menjadi  inspirasi  dan  bahkan  penuntun  tindakan  praktis  untuk  pengembangan  hasil-hasil rancangannyaagar mampu memenuhi beragam selera pemakai.

(3) Judul : PENGARUH UNSUR MILITARY TERHADAP DESAIN

Penulis : Benhart Bhara Menoreh, Sulistyo Setiawan 

Edisi : Tahun 2021

Kesimpulan : 

Berdasarkan pembahasan diatas mengenai pengaruh unsur military pada masyarakat khususnya kalangan muda di Indonesia dapat disimpulkan bahwa saat ini banyak yang sudah lebih mengenal tentang fashion dan perkembangannya terbilang cepat terlebih lagi pada kalangan muda di Indonesia. Hal tersebut dipengaruhi oleh perkembangan zaman yang saat ini segala informasi sudah dapat diakses dengan sangat cepat dan tersebar dengan sangat luas. Ditambah lagi dengan muncul nya brand atau merek fashion di Indonesia yang berkonsep military, hal tersebut secara langsung mempengaruhi dan menambah informasi para kalangan muda di Indonesia tentang perkembangan fashion terkini. Ada beberapa merek atau brand fashion Indonesia yang berkembang pada area military fashion dan techwear. Produk-produk yang dihasilkan oleh brand atau merek tersebut memiliki karakteristik yang berhubungan dengan military. Unsur-unsur yang terdapat didalam military yang diadaptasi dan dipadukan dengan fashion techwear yaitu versatile atau multi fungsi, modular atau sistem lepas pasang, dan large capacity atau kompartment yang besar dan muat banyak. Didalam aspek tersebut masih banyak ruang untuk di ekplorasi lebih dalam secara desain dan fashion. Dengan adanya fashion techwear yang baru muncul dan berkembang di Indonesia, membuat trend fashion tersebut menarik untuk dibahas lebih dalam lagi. Selain itu masyarakat Indonesia tergolong cukup konsumtif terhadap segala sesuatu, terutama dalam hal fashion yang membuat trend fashion yang baru muncul tersebut dapat diterima pada masyarakat Indonesia terlebih lagi pada kalangan muda nya.

Berdasarkan pembahasan yang telah disebutkan diatas, penulis dapat menyebutkan bahwa fitur yang ada pada produk tas fashion techwear mengadaptasi konsep modular tersebut. Selain itu, pada penerapan nya hal-hal yang berhubungan dengan military juga mengadopsi konsep modular tersebut. Karena berdasarkan kebutuhan dan urgensi nya, barang bawaan pada tas militer dapat di tambah-kurangi atau di lepas-pasang dengan cara menggunakan pouch kecil atau kompartmen tambahan yang dibuat dengan system modular. Penerapan atau penggunaan system tersebut merupakan suatu kebaruan desain yang mengadopsi system tas militer yang kemudian dipadukan dengan fashion. Hal tersebut mempermudah pengguna nya karena dapat disesuaikan dengan kebutuhan pengguna nya, karena system modular yang dapat di lepas – pasang bagian bagian nya, dengan unsur utility yang membuat pengguna produk fashion techwear tersebut menjadi lebih puas terhadap produk atau barang yang mereka gunakan. Seperti pada contoh produk sarana bawa berikut ini yang memiliki fitur kompartmen dengan pola jahitan nylon webbing yang dijahit berbentuk lurus namun diberi ruang atau rongga yang berfungsi untuk melepas pasang kompartmen atau pouch tambahan. Fitur tersebut sangat berfungsi karena dapat menyesuaikan sesuai kebutuhan pengguna apabila ingin membawa barang yang lebih banyak, atau barang yang lebih sedikit pada tas.

(4) Judul : ANALISIS PENGEMBANGAN DESAIN FASHION BERKELANJUTAN DI INDONESIA

Penulis : Rahayu Budhi Handayani

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 

Analisis Pengembangan Desain Fashion Berkelanjutan di Indonesia memaparkan mengenai bagaimana strategi pendekatan desain dapat dipraktikkan untuk berkontribusi bagi perkembangan fashion berkelanjutan. Fashion merupakan industri yang memiliki potensi besar bagi ekonomi kreatif Indonesia dan penyerapan tenaga kerja, namun disisi lain memiliki dampak negatif terhadap sosial dani lingkungan. Fashion berkelanjutan adalah tren dan estetika baru yang berkembang pada masyarakat urban. Terdapat berbagai strategi untuk mengembangkan fashion berkelanjutan salah satunya melalui pendekatan desain. Menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, paper ini menganalisis lebih lanjutm implementasi strategi tersebut melalui purposive sampling pada merek Sejauh Mata Memandang sebagai salah satu pionir fashion berkelanjutan di Indonesia. Berdasarkan hasil observasi virtual dan analisis data, disimpulkan bahwa terdapat enam strategi desain berkelanjutan yang dilakukan oleh sejauh Mata Memandang yang dapat dijadikan referensi sebagai praktik terbaik pengembangan desain fashion berkelanjutan di IndonesiaFashion merupakan salah satu industri terbesar pada ekonomi kreatif Indonesia dengan sumbangsih besar terhadap PDB dan penyerapan tenaga kerja. Namun disisi lain, industri fashion juga memiliki dampak negatif terhadap sosial dan lingkungan. Berkembangnya tren fashion berkelanberkelanjutan merupakan hal baik yang perlu dikembangkan di Indonesia. Melalui pemaparan pada artikel ini, dapat disimpulkan bahwa desain dapat berkontribusi terhadap perkembangan fashion berkelanjutan di Indonesia. Melalui studi kasus Sejauh Mata Memandang, terdapat beberapa strategi desain fashion berkelanjutan yang dapat menjadi inspirasi praktik terbaik dalam menjalankan strategi fashion berkelanjutan dengan pendekatan desain. Sejauh Mata Memandang menggunakan 6 (enam) strategi dari 10 (sepuluh) strategi desain fashion berkelanjutan yaitu:

1. Desain dengan sisa minimal

2. Desain untuk daur ulang

3. Desain untuk mengurangi pemakaian energi

4. Desain dengan inspirasi sejarah atau alam

5. Desain untuk produksi yang beretika

6. Desain multifungsi

Melalui studi kasus Sejauh Mata Memandang, diharapkan mampu memberikan inspirasi untuk pengembangan desain fashion berkelanjutan di Indonesia dengan pendekatan desain.

(5) Judul : Peran Penting Hukum Dalam Melindungi Desain Fashion Dalam Perspektif Perlindungan  Kekayaan Intelektual

Penulis : Mauliya Fitriani, Della Miftahurrizka, Mizan Imani Naqsyabandi, Noerma Kurnia Fajarwati

Edisi : Tahun 2024 

Kesimpulan : 

Dalam mengkaji peran penting hukum dalam melindungi desain fashion dari perspektif perlindungan intelektual, dapat disimpulkan bahwa kerangka hukum yang ada, terutama hak cipta dan desain industri, memberikan fondasi penting bagi perlindungan karya seni di industri fashion. Hak cipta, seperti diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, memberikan perlindungan otomatis terhadap desain fashion. Namun, batasan-batasan yang melekat pada hak cipta menuntut pemikiran lebih lanjut terutama dalam menghadapi aspek fungsional dan ide dalam desain. Desain industri, sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri, memberikan penguatan perlindungan yang lebih spesifik dan terfokus. Pendaftaran desain industri memberikan hak eksklusif yang dapat memberikan kendali yang lebih kuat terhadap duplikasi desain fashion. Meskipun demikian, tantangan dalam pembuktian kepemilikan hak cipta dan kemudahan dalam pemalsuan tetap menjadi  kendala dalam praktiknya. Dalam konteks ini, penyempurnaan dan pembaruan kerangka hukum menjadi langkah krusial. Peran hukum tidak hanya sebatas dalam melindungi hak kekayaan intelektual tetapi juga memiliki dampak luas terhadap pertumbuhan industri fashion. Dengan memberikan insentif yang cukup dan menyediakan perlindungan yang kuat, hukum dapat mendorong investasi dan inovasi di sektor ini, menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan ekonomi.

Desain fashion sebagai ekspresi kreatif dan intelektual memerlukan perlindungan hukum yang tepat guna mendorong inovasi dan melindungi hak-hak pencipta. Artikel ini membahas peran penting hukum dalam melindungi desain fashion dari perspektif perlindungan intelektual. Pendekatan ini melibatkan analisis terhadap peran hak kekayaan intelektual, terutama hak cipta dan desain industri, dalam memberikan perlindungan yang cukup terhadap karya seni di dunia fashion. Hak cipta memberikan perlindungan otomatis terhadap karya-karya orisinal, termasuk desain fashion. Namun, batasan-batasan hak cipta menyebabkan perlindungan yang terbatas, itulah mengapa penting untuk memahami bagaimana desain industri dapat memberikan perlindungan lebih luas. Melalui pendaftaran desain industri, pencipta dapat mengamankan hak eksklusif terhadap desain fashion mereka, mencegah duplikasi tanpa izin. Perlindungan hukum ini juga membantu menciptakan lingkungan bisnis yang adil dan memicu pertumbuhan industri fashion. Dengan mengakui nilai ekonomi dan kreatif dari desain fashion, hukum berperan dalam mendorong investasi dan inovasi di sektor ini. Oleh karena itu, pemahaman yang mendalam tentang peran hukum dalam perlindungan intelektual desain fashion sangatlah krusial bagi para pelaku industri, pencipta, dan pengguna yang berkepentingan.

(6) Judul : KAJIAN MATERIAL-DRIVEN DESIGN DALAM DESAIN PRODUK FASHION BERBASIS EKSPLORASI MATERIAL SWAKRIYA

Penulis : John Martono, Eka Arifianty Puspita

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 

Berdasarkan paparan terkait fashion, dapat diasumsikan bahwa aktivitas ‘berpakaian’ merupakan pusat desain fashion. Interaksi antara objek fashion dan pengguna dalam kondisi ‘memakai’ membentuk keterikatan dan mengkonstruksi wacana yang luas di antara pikiran dan tubuh (Thornquist, 2018). Interaksi pengguna terhadap objek fashion tersebut menstimulasi pengalaman sensorial dan memberikan peluang bagi pengguna untuk mengeksplorasi beragam emosi yang kemudian dimanifestasikan pada objek tersebut (Costa dkk., 2013). Oleh karena proses konstruksi suatu makna dan nilai melalui berpakaian, fashion perlu dirancang untuk menghasilkan performa sensorial yang tepat agar mampu memberikan kepuasaan persepsi dan emosi pengguna. Kemampuan fashion dalam menyampaikan makna simbolik, menuntut rancangan produk yang mampu menarik perhatian dan memfasilitasi kebutuhan imajinasi konsumen.

Proses desain yang dilakukan para perancang dalam penelitian ini kurang berhasil mencapai tujuan utama desain fashion, yaitu desain bercitra mutakhir bagi para target pengguna. Namun melalui praktik pada penelitian ini, dapat dipahami bahwa pemilihan material yang tepat mempengaruhi keberhasilan rancangan. Tidak dapat dipungkiri bahwa keputusan desainer memiliki peran penting dalam kesuksesan visi desain yakni dalam menanggapi informasi terkait pengalaman terhadap material, mengeksplorasi material, hingga memilih olahan material yang akan diaplikasikan pada produk fashion. 

Meskipun hasil rancangan tidak berhasil optimal, namun implementasi Material Driven Design dalam perancangan produk fashion mengungkap keragaman pengalaman pengguna terhadap material khususnya pengalaman bersifat sensorial, interpretatif, dan afektif. Terintegrasinya MDD dalam proses desain berbasis olahan material swakriya tersebut membantu desainer mendapatkan panduan ataupun gagasan untuk bereksperimen, baik berupa elemen visual, teknik pengolahan, maupun fungsi rancangan. Studi pengalaman terhadap material pun membantu desainer memahami adanya kualitas lain yang mempengaruhi terbangunnya visi desain seperti ditemukannya interpretasi mewah dan sederhana pada visi desain mutakhir bagi target pengguna. Selanjutnya, penelitian ini pun mengungkap potensi transformasi pengalaman pengguna terhadap material dalam proses perancangan. Hal tersebut membuka ruang baru bagi desainer untuk bereksperimen dan menciptakan kebaruan pengalaman terkait material pada produk fashion.

Melalui penelitian ini dapat disimpulkan bahwa teringerasinya studi pengalaman terhadap material dalam proses perancangan, khususnya MDD, memberikan potensi positif bagi proses perancangan produk fashion. Kapasitas fashion yang mampu berperan sebagai medium representasi diri, membutuhkan informasi mendalam terkait rangkaian pengalaman pengguna terhadap material untuk menciptakan hasil yang sesuai dengan minat pengguna. Meskipun keputusan desainer pun memiliki andil dalam keberhasilan desain, namun implementasi studi pengalaman target pengguna terhadap material menawarkan wawasan luas terkait preferensi pengguna yang baik untuk desainer kembangkan dalam proses rancangannya.

(7) Judul : DAMPAK FAST FASHION DAN PERAN DESAINER DALAM MENCIPTAKAN SUSTAINABLE FASHION

Penulis : Chanifatin Nidia, Ratna Suhartini

Edisi : Tahun 2020

Kesimpulan : 

Fast fashion adalah model bisnis yang menawarkan pakaian yang murah dan trendi, hasil kolaborasi produsen, pemasok, dan konsumen, yang perputarannya sangat cepat berganti untuk memenuhi dan menguasai pasar mode. Ciri-ciri bisnis fast fashion antara lain (1) mereka berusaha memasukkan produk di pasar dengan segera, mereka meningkatkan jumlah pengecer/ritel di seluruh dunia sehingga semakin dapat menjangkau semakin banyak pelanggan; (2) ada kebutuhan untuk menghubungkan permintaan pelanggan dengan operasi hulu desain, pengadaan, produksi dan distribusi; (3) fast fashion membutuhkan siklus pengembangan pendek, prototyping cepat, dan banyak variasi sehingga pelanggan ditawarkan desain terbaru dalam jumlah terbatas; dan (4) rantai pasokan yang sangat cepat dan sangat responsif.

Sebuah penekanan pada kecepatan, kuantitas, dan ukuran mendorong budaya konsumsi dan industri, sehingga akan terjadi masalah terhadap kesejahteraan manusia, terutama polusi dan paraktek perdagangan yang tidak adil. Industri fast fashion telah tumbuh lebih cepat dari industri fashion lainnya, sehingga mendorong disposibilitas yang lebih besar. Industri fast fashion menjadi penyumbang tekstil limbah yang berakhir di tempat pembuangan sampah, sementara bahan sintetis tidak dapat terurai. Selain itu, fast fashion bertanggung jawab atas hampir 10 persen dari emisi gas global yang mengakibatkan pemanasan global. Gas rumah kaca dan berbagai pestisida dan pewarna dilepaskan ke lingkungan oleh indrustri fast fashion. Meningkatnya permintaan akan fast fashion secara terus-menerus menambah pelepasan limbah dari pabrik-pabrik tekstil, yang mengandung pewarna dan larutan kaustik. Bahan yang digunakan tidak hanya mempengaruhi lingkungan pada produk tekstil, tetapi juga pekerja dan orang-orang yang memakai pakaian. Zat berbahaya pada pembuatan produk fast fashion mempengaruhi semua aspek kehidupan dan dilepaskan ke lingkungan sekitar.

Desainer merupakan salah satu aktor dalam membuat produk fashion, sehingga perannya dalam menciptakan fashion yang sustainable sangat bermanfaat dalam ikut menyelamatkan planet bumi. Berikut adalah konsep yang diusulkan penulis yang bisa menjadi alternatif dalam menciptakan fashion yang sustainable antara lain: ethical fahion, eco label, quality & durability, timeless desain, local & traditional, recycling & upcycling, dan zero waste & modular structures.

(8) Judul : Pembelajaran Ilustrasi Fashion Digital Berbasis Kearifan Lokal Di Program Studi Desain Mode Institut Seni Indonesia Denpasar

Penulis : Ni Kadek Yuni Diantari

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 

Kesimpulan pada artikel diatas pelaksanaan pembelajaran sketsa desain digital berbasis kearifan lokal  dalam tahapan  pengembangan  desain  di  program  studi  desain  mode  bertujuan  untuk menindaklanjuti  tuntutan perkembangan era  industri  4.0  yang  selalu  menerapkan teknologi   dan  digitalisasi. Program   Studi   Desain   Mode  diharapkan   mampuberadaptasi   dengan   teknologi  dan   digitalisasi sehingga   dapat   mepersiapkan mahasiswa  yang  memiliki  jiwa  kreatif  dan  inovatif  dalam  mewujudkan  karya  atau produk  fashiodengan  daya  saing  secara  global  berlandaskan  kearifan  lokal  sebagai singularitas lulusan Program Studi Desain Mode.

Program  Studi  Desain  Mode  memiliki  tantangan  untuk  bergerak  selaras dengan  era  industri  4.0.  Industri  4.0  ditandai  dengan  perubahan  yang  sangat  besar dalam berbagai faktor, termasuk perubahan dalam sistem produksi meliputi desain, produksi, komunikasi, serta distribusi. Perkembangan era industri 4.0 secara tidak langsung menuntut Program Studi Desain  Mode  untuk  mampu  beradaptasi  dengan  teknologi  sehingga  dapat  lebih banyak  berkreasi  dan  berinovasi.  Teknologi  sangat  berperan  penting  dalam  proses pembelajaran digital di prodi desain mode. Digitalisasi diharapkan dapat membantu mahasiswa desain mode untuk menjadi lulusan bermutu dan berdaya bersaing lokal serta  global.  Namun  tetap  berpedoman  pada  visi  dari  ISI  Denpasar  umumnya  dan Program  Studi  Desain  Mode  khusus,  yaitu  menjadi  pusat  penciptaan,  penyajian, dan pembinaan desain mode, yang memiliki singularitas (keunikan) identitas budaya lokal berlandaskan karakter Bangsa Indonesia.

Berdasarkan pengamatan terhadap situasi  pembelajaran di prodi desain mode, menunjukkan bahwa mahasiswa lebih dominan mengerjakan 8 tahapan desain mode dengan pola manual daripada pembelajaran yang dikolaborasi dengan proses digital. Dari 8 tahapan desain mode, tahapan yang dapat memanfaatkan proses digital secara optimal adalah  tahapan  pengembangan  desain  (design  development).  Umumnya tahapan  pengembangan  desain  dilakukan  dengan  membuat  ilustrasi fashion  atau rancangan desain secara manual sehingga kurang efisien waktu.Mahasiswa  perlu  dimotivasi  untuk  lebih  menguasai  dan  mengoptimalkanpembelajaran  digital  agar  mahasiswa  tidak  terkekang  dalam  zona  nyaman  dengan penggunaan   pola   manual   selama  pengerjaan   tahapan   tersebut.   Disamping   itu pembelajaran  digital  yang  dilakukan   tentunya    harus   memiliki   keunikan   atau singularitas    yakni  dengan  menerapkan  kearifan  lokal  bangsa  Indonesia.  Kearifan dalam arti luas tidak hanya berupa norma-norma dan nilai-nilai budaya, melainkan juga segala unsur gagasan, termasuk yang berimplikasi pada teknologi, penanganan kesehatan, dan estetika. “kearifan lokal” terjabar dalam seluruh warisan budaya, baik yang   tangible   maupun   yang   intangible   (Edy  Sedyawati,   2006:   382).   Dengan pembelajaran  ilustrasi fashion  berbasis  kearifan  lokal  maka  mahasiswa  dapat  lebih terarah menuangkan kreasinya sehingga kedepannya mahasiswa menemukan ciri khas dalam berkarya dan lebih percaya diri menghadapi era industri 4.0.

(9) Judul : APLIKASI TEKNIK ECOPRINT PADA MEDIA KULIT DALAM PEMBUATAN TAS FASHION WANITA DALAM KONTEKS LIMINALITAS

Penulis : Fajar Lestari, Moh. Rusnoto Susanto, Dwi Susanto, Sugiyamin, Insanul Qisti Barriah

Edisi : Tahun 1 Januari 2022

Kesimpulan : 

Perkembangan desain dan teknik aplikasi ecoprint, khususnya pada proses pembuatan tas fashion wanita dewasa ini sangat berkembang dengan berbagai eksplorasi material maupun desain. Melalui analisis SWOT desaian dan eksplorasi media serta teknik artistik dilakukan untuk memenuhi kebutuhan cita rasa pasar saat ini. Pada paparan artikel ini, khusus akan detail membahas mengenai bagaimana aplikasi teknik Ecoprint pada media kulit dalam pembuatan tas fashion wanita. Tujuan dari penciptaan karya ini adalah kreasi inovasi produk handbag wanita pada segmen usia 18-50 tahun dengan bahan dasar kulit dengan model kombinasi kulit ecoprint yang berasal dari kulit wet blue domba, sehingga lebih memahami proses pembuatan ecoprint dan penerapannya dalam pembuatan handbag wanita dengan corak bunga kamboja melalui proses kreatif Ini dipicu dari konteks liminalitas. Penciptaan karya ini dilakukan dengan metode penciptaan seni berbasis pengalaman praktis melalui beragai eksplorasi yang berupa eksplorasi ide dan konsep, eksplorasi bahan dan eksplorasi desain dengan inspirasi bunga kamboja. Dalam memvisualisasikan ide dan konsep diperoleh dari pengamatan yang divisualisasikan dalam sketsa untuk mewujudkan berbagai desain yang menjadi ciri khas dari setiap karya. Dan tahap akhir adalah perwujudan karya produk handbag. Hasil penciptaan seni kriya yang dihasilkan, diantaranya (1) Proses aplikasi teknik Ecoprint pada media kulit samak dalam proses pembuatan tas fashio wanita melalui berbagai bentuk dan desain berupa handbag. (2) Aplikasi eksplorasi teknik dan kombinasi material kulit samat dengan teknik ecoprint dengan berbagai ukuran sesuai dengan desain terpilih yang menarik dan fungsi penggunaannya. Pemilihan subject matter ecoprint dan tas fashion wanita tak sekadar sebagai sumber inspirasi melainkan ada kesadaran liminalitas terhadap akar tradisi.

Proses penciptaan teknik ecoprint pada kulit sebagai bahan pembuatan tas wanita dengan konsep model tas pada segmentasi wanita usia 18-50 tahun cenderung menyukai model tas yang elegan dan tidak ketinggalan jaman namun memiliki corak yang tetap eksklusif yang cocok dipakai pada acara yang sesuai. Dengan penggunakan material kulit handbag dibuat untuk kalangan high class karena harga kulit yang tergolong mahal. Bunga sebagai motif melambangkan sisi wanita yang feminin, dipadukan penggunaan bahan dasar kulit yang mengesankan sisi eksklusif dan elegan. Proses pembuatan ecoprint pada kulit dimulai dari penyusunan bunga kamboja yang telah disesuaikan dengan konsep dasar tas pada kulit domba wet blue, proses pembuatan ecoprint yang di mulai dari perendaman kulit, scourring, pencetakan motif, pelapisan, penggulungan dan proses pengukusan untuk mendapatkan motif pada kulit. Sejumlah eksplorasi dilakukan dalam konteks liminalitas sebagai manifestasi aspek lokal dan menstimulasi persepsi estetik para pengguna produk kreatif tas kulit hasil aplikasi teknik ecoprint. Proses pembuatan tas wanita dengan bahan kulit motif ecoprint kombinasi dimulai dari pembuatan konsep desain awal hingga pembuatan pola tas, pemotongan, perakitan hingga proses finishing. Handbag yang dibuat dengan bahan aplikasi motif ecoprint dibuat dalam 8 karya dengan berbagai macam desain seperti pada pembahasan diatas dengan mengusung tema Amazing Love, Wangi Pagi, Full Moon, Mekar, Love, Kisah Sang Bulan, Love Story, dan Simple Life.

(10) Judul : Perspektif Puisi “A Dream Within A Dream” Pada Desain Fashion dan Lifestyle Homespun Spring Summer 2021

Penulis : Refsi Venny Utomo, Wyna Herdiana, Dian Prianka

Edisi : Tahun 2020

Kesimpulan : 

Pada artikel diatas rancangan koleksi Spring/Summer 2021 berdasarkan trend forecast WGSN Spring/Summer 2021 “HomeSpun”menggunakan inspirasi dari puisi karya Edgar Allan Poe, “A Dream within a Dream”. Puisi ini mempunyai 24 baris yang dibagi menjadi dua bait, menceritakan perbedaan persepsi hidup kita serta efek waktu, yang menekankan bahwa eksistansi manusia hanyalah suatu impian dan ilusi, sebuah gambaran abstrak dari pikiran manusia. Kategori busana adalah citywear dengan kesan sophisticated dan elegan. Melalui metode penelitian wawancara, dihasilkan beberapa kata kunci, yaitu blurry, suatu pertentangan/bertolak belakang, garis lengkung, pertemuan antara dua substansi berbeda, conflicting diagonal line, serta transparan. Berbagai kata kunci tersebut kemudian dituangkan dalam cutting pakaian, detail, serta embellishments pada garmen. Detail dan embellishment yang dipakai adalah cutting yang sedikit deconstructed, anyaman, tulisan dengan menggunakan jahitan dan sulaman, serta rajutan dan clay beads. Koleksi ini terdiri dari 60 desain pakaian wanita, pria, serta anak perempuan dan berbagai produk lifestyle serta aksesoris pelengkapnya. Pakaian yang direalisasikan sebanyak 5 looks, yang terdiri atas 14 garmen,5 pasang sepatu, 2 tas, 2 anting-anting, 2 kacamata, 3 headband, 1 set jepit rambut, 1 gelang, 1 scrunchie, serta 1 case handphone dan airpod.

Dalam merancang suatu koleksi dibutuhkan riset secara mendalam agar dapat merancang busana dengan lebih maksimal. Dari inspirasi puisi “A Dream within a Dream” oleh Edgar Allan Poe, penulis merancang 60 busana dan memproduksi lima looks. Puisi ini mempunyai 24 baris yang dibagi menjadi dua bait, menceritakan perbedaan persepsi hidup kita serta efek waktu, yang menekankan bahwa eksistansi manusia hanyalah suatu impian dan ilusi, sebuah gambaran abstrak dari pikiran manusia. Kategori busana adalah citywear dengan kesan sophisticated dan elegan. Beberapa kata kunci yang didapatkan dari beberapa metode pengumpulan data adalah blurry, suatu pertentangan/bertolak belakang, garis lengkung, pertemuan antara dua substansi berbeda, conflicting diagonal line, serta transparan. Berbagai kata kunci tersebut kemudian dituangkan dalam cutting pakaian, detail, serta embellishments pada garmen. Metafora laut pada puisi dapat ditemukan pada motif marble yang terdapat pada clay beads. Selain itu, juga dapat menggambarkan dunia mimpi yang abstrak. Namun, dikarenakan pada tahun 2020 ini terjadi pandemi karena virus corona,timeline produksi serta peluncuran brand jadi terlambat. Diperlukan pula strategi marketing yang ter-update karena daya beli dan perilaku konsumen juga berubah akibat pandemi tersebut. Dapat disimpulkan bahwa dalam merancang suatu koleksi, riset tentang inspirasi telah dilakukan secara mendalam dan menyeluruh sehingga dalam setiap detail pakaian terdapat alasan dan cerita yang kuat dibaliknya, sesuai dengan salah satu poin penting trend forecasting Spring/Summer 2021 “HomeSpun”, yaitu desain yang tidak hanya sempurna tetapi desain yang bercerita.

(11) Judul : IMPLEMENTASI KAIN BATIK PADA DESAIN VIRTUAL REALITY FASHION TIGA DIMENSI

Penulis : Okta Purnawirawan, Annisa Carina, M Ratna Fajarwati

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 

Industri garmen, tekstil dan fashion merupakan salah satu sektor ekonomi terbesar di Indonesia, didukung oleh semakin tingginya minat masyarakat terhadap produk fashion dalam maupun luar negeri dan sirkulasi tren yang semakin dinamis setiap tahunnya. Industri tersebut di era digitalisasi saat ini berkembang dengan pesat. Oleh sebab itu pada proses pembuatan desain model dibuat secara digital dengan memanfaatkan perangkat teknologi informasi. Tujuannya yaitu untuk efisiensi dan efektifitas produksi pada indsutri garmen, tekstil dan fashion. Software aplikasi CLO 3D merupakan perangkat lunak yang dapat membuat virtual reality fashion berbentuk tiga dimensi. Kain batik dapat diterapkan pada virtual reality fashion dengan menggunakan bantuan software tersebut. Penelitian ini menggunakan metodologi penelitian kualitatif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dengan menggunakan Software aplikasi CLO 3D dapat membuat berbagai jenis rancangan desain virtual reality fashion. Software tersebut memberikan gambaran secara nyata bagaimana pola yang dibuat secara dua dimensi dan 3D dan mengimplementasikan kain batik pada model fashion.

Desain tiga dimensi adalah salah satu permodelan (prototype) dari suatu busana, sebagai tindak lanjut dari pembuatan desain busana. Permodelan ini seringkali digunakan sebagai master yang dipajang di suatu usaha butik/rumah mode, ataupun dapat dijadikan contoh, karena desain tiga dimensi dapat memvisualisasikan kondisi yang sesungguhnya dari suatu busana yang akan dibuat. Sesuai dengan namanya, maka desain tiga dimensi adalah gambar desain busana yang dibuat dalam format tiga dimensi, yaitu memiliki ukuran panjang, lebar dan ketebalan, sehingga gambar tersebut memiliki ukuran volume. Selain itu, penggunaan pencetakan tiga dimensi sudah umum di banyak industri, termasuk industri fashion. Pencetakan tiga dimensi telah digunakan secara luas di berbagai industri termasuk industri fashion. Kesimpulan dari artikel diatas Implementasi kain batik pada desain virtual reality fashion berbentuk tiga dimensi dapat dibuat dengan menggunakan software aplikasi CLO 3D. Tahapan proses dalam pembuatan desain fashion digital dengan menggunakan software aplikasi CLO 3D yaitu (1) membuat avatar (model); (2) membuat pola busana dua dimensi pada avatar; (3) menggandakan pola menjadi dua bagian; (4) memberikan warna pada pola; (5) melengkungkan beberapa bagian garis pola pada bagian leher dan lengan; (6) menduplikat desain pola utuh menjadi dua bagian; (7) menjahit kedua bagian pola pada avatar tiga dimensi; dan (8) melakukan proses akhir untuk mengetahui hasil menjahit kedua pola tersebut. Software aplikasi CLO 3D sebagai media dapat membantu membuat desain fashion digital berbentuk tiga dimensi. Software aplikasi memberikan gambaran secara nyata bagaimana pola yang dibuat secara dua dimensi kemudian diterapkan pada pola berbentuk tiga dimensi. Implementasian kain batik pada virtual reality fashion dapat menjadikan batik sebagai bagian dari desain fashion.

(12) Judul : FENOMENA INDUSTRI FAST FASHION: KAJIAN HUKUM PERSPEKTIF KEKAYAAN INTELEKTUAL INDONESIA

Penulis : Yudi Kornelis

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 

Perkembangan fast fashion secara global dan di Indonesia cukup signifikan. Hal ini diketahui dari banyak merek fast fashion yang telah masuk ke Indonesia, merek tersebut diantaranya seperti Zara (Spanyol), H&M (Sweden), Uniqlo (Jepang), dan merek lain. Hal ini dikarenakan pangsa pasar yang luas. Hingga saat ini, telah banyak perusahaan fast fashion yang membuka banyak gerai di berbagai tempat di Indonesia yakni: (1) H&M yang memiliki 35 (tiga puluh lima) toko; (2) Zara yang memiliki 13 (tiga belas) toko; dan (3) Uniqlo yang memiliki 46 (empat puluh enam) toko. Hal ini menunjukkan bahwa adanya penerimaan masyarakat Indonesia akan fast fashion yang dapat dilihat dari jumlah toko yang cukup banyak dibuka oleh perusahaan fast fashion di Indonesia dan pangsa pasarnya. Dengan penerimaan yang cukup besar dan fakta banyak kasus terkait HKI yang dilakukan perusahaan fast fashion maka perlu diketahui regulasinya. Regulasi khusus terkait desain fashion di Indonesia untuk saat ini belum ada. Namun, dapat diketahui dan dipahami terdapat tiga bentuk produk hukum yang dapat digunakan untuk melindungi ancaman plagiarisme produk Fashion dari perusahaan fast fashion ataupun pelaku plagiasi lainnya yakni melalui hak cipta, merek, dan desain industri. Perlindungan hak cipta atas produk fashion adalah pada desain dan ornamental dari produk fashion tersebut. Perlindungannya muncul sejk dilakukannya pengumuman. Merek sendiri dapat dilindungi apabila didaftarkan dan dicantumkannya merek pada suatu produk fashion. Sehingga apabila ada yang mencantumkan merek di produk yang ia memiliki, pemilik merek dapat mengajukan gugatan terhadap pelanggaran penggunaan merek tanpa izin. Sedangkan desain industri, perlindungannya juga dapat dilakukan melalui pendaftaran namun dengan syarat desain harus baru, asli dan unik.

(13) Judul : PELUANG INDUSTRI FASHION HALAL DI INDONESIA: (Model Pengembangan dan Strategi)

Penulis : Syahruddin Kadir

Edisi : Januari- Juni 2023

Kesimpulan : 

Indonesia merupakan negara dengan mayoritas muslim, memiliki peluang yang sangat besar untuk mengembangkan sektor fashion halalnya. Saat ini fashion wanita berbusana tertutup telah berkembang menjadi gaya hidup masyarakat. Praktik mengenakan pakaian tertutup karena alasan budaya dan agama serta tetap mengikuti tren saat ini. Indonesia akan mampu memimpin dalam fashion muslim berkat pengetahuan masyarakat yang semakin berkembang akan potensi pertumbuhan sektor tersebut. Budaya masyarakat menjadi salah satu bentuk perhatian bagi para produsen untuk memproduksi model busana yang cocok bagi suatu daerah di Indonesia, dengan membuat desain busana olahraga dan desain busana kearifan lokal. Desain tersebut ikut berperan dalam mengembangkan dan mengeluarkan produk yang mendukung gaya hidup sehat, namun tetap mengikuti kaidah pakaian muslim, yakni tertutup. Hal tersebut akan menjadi standar bagi pelaku bisnis dalam mengembangkan produknya dengan memenuhi kebutuhan dan keinginan bagi masyarakat di Indonesia. Selain itu upaya membangun kawasan industri halal. Konsep pengembangan kawasan industri halal harus menyediakan kebutuhan lokasi untuk pengembangan industri fashion halal melalui pendayagunaan agen fashion dan penerbitan media gaya hidup muslim. Hadirnya media dan agen publik figure yang semakin banyak dan mengekspos kehidupan muslimah membuat para perempuan muslim merasa lebih terbiasa dengan pemakaian (pakaian, hijab), dan secara tidak langsung membuat perempuan yang belum berhijab memustukan untuk berhijab.

Desainer harus menciptakan model fashion yang segar untuk dijual ke pelanggan yakni membuat desain menarik suatu produk, semakin besar kemungkinan pelanggan untuk membelinya. Hal yang sejalan juga harus dilakukan adalah membuat dan menerbitkan artikel majalah untuk mempromosikan produk fashion yang bagus dan banyak diminati oleh penduduk dunia agar mengalami perkembangan dari segi merk dan metode yang unik. Dengan demikian, sector industri halal fashion di Indonesia merupakan bisnis yang menjanjikan untuk usaha di masa mendatang karena meningkatnya kesadaran masyarakat dalam berpakaian untuk menutup aurat dan memenuhi keinginannya mengikuti tren baru di era globalisasi saat ini. Untuk itu, sampai saat ini masih terus dibutuhkan penelitian dan pengembangan bisnis fashion halal agar mampu menciptakan peluang baru dan ikut berpartisipasi dalam mencapai tujuan Negara Indonesia sebagai produsen fashion halal di dunia.

(14) Judul : PERLINDUNGAN HUKUM ATAS MODE PAKAIAN SEBAGAI DESAIN INDUSTRI DI INDONESIA

Penulis : Defi Arika, Elza Syarief, Yudhi Priyo Amboro

Edisi : 2 Oktober 2023

Kesimpulan :

Pengaturan hukum tentang Desain Industri yang saat ini berlaku di Indonesia diatur melalui pengesahan Undang-Undang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. Pembentukan aturan ini tentu tidak dapat berjauhan dari pengaruh perjanjian atau organisasi internasional, seperti TRIPs Agreement hingga bergabungnya Indonesia dalam keanggotaan WIPO. Negara telah menyediakan jalan keluar ataupun solusi bersama guna menindak setiap pelanggaran atau plagiarisme yang terjadi dalam industri fashion, terutama apabila kaitannya dengan penjiplakan model atau motif dari suatu desain pakaian. Setiap pelaku industri dituntut untuk lebih jeli dan sadar akan aturan sehingga tidak hanya berfokus untuk mencari siapa yang paling berhak atas suatu desain hanya karena dipopulerkan, melainkan turut berperan aktif membantu negara dan Pemerintah dalam melakukan pendaftaran terkait setiap desain atau motif yang dimiliki dan dikehendaki. Bentuk perlindungan hukum Desain Industri untuk menyelesaikan masalah plagiasi mode pakaian adalah melalui upaya perlindungan secara preventif dan represif. Perlindungan secara preventif akan mendorong usaha untuk mencegah agar jangan sampai terjadinya sengketa dalam Desain Industri, melalui pendaftaran first-to-file sehingga meminimalisir hal atau masalah yang tidak diinginkan di kemudian hari. Sementara perlindungan hukum represif akan menjadi jalan terakhir yang dapat ditempuh oleh Pemegang Hak Desain Industri apabila ternyata usaha preventif tidak dapat berjalan dengan sebagaimana mestinya. Adapun dengan upaya ini dapat memberantas dan menghindari kejadian serupa atas ulah oknum nakal yang secara gampang melakukan plagiasi tanpa menghargai  Kekayaan Intelektual di kemudian hari. Pemegang Hak Desain Industri diberikan kebebasan dan hak sepenuhnya untuk mengajukan tuntutan baik itu secaara keperdataan maupun pemidanaan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku sebagaimana diatur oleh UndangUndang No. 31 Tahun 2000 tentang Desain Industri. 

(15) Judul : PENERAPAN BURUNG PHOENIX DAN BUNGA PEONY PADA PRODUK FASHION WANITA

Penulis : Berinda Fitri Ardiyani,Zaitun Y.A Kherid, Ataswarin Oetopo

Edisi : April 2023

Kesimpulan : 

Penciptaan Karya Seni Rupa ini dilakukan guna mengangkat motif budaya atau suatu tradisi tertentu yang kemudian dikembangkan, dimodifikasi dan diterapkan pada produk fashion dengan di bawa ke arah yang lebih modern menggunakan teknik digital printing on textile. Di balik keindahan dan segi fungsionalnya, sebetulnya motif yang ada pada produk fashion memiliki cerita, filosofi, dan makna simbolis yang mendalam seperti filosofi yang ada pada burung phoenix dan bunga peony Keberadaan hal tersebut menarik untuk diterapkan pada suatu produk fashion. Sehingga produk fashion tersebut dapat memiliki nilai jual yang tinggi karena motif yang ada di dalamnya memiliki filosofi mendalam sehingga desain yang dihasilkan orisinil dan limited, di tambah lagi diproses menggunakan teknologi digital, menjadikan produk yang dibuat tidak ketinggalan zaman dan modern. 

Pengembangan ide dan modifikasi yang dilakukan juga guna meningkatkan kreatifitas dan skill pada desain tekstil. Era modern ini produk fashion khususnya pakaian sangat di butuhkan masyarakat, terutama kaum wanita. Hal tersebut menjadi peluang yang sangat besar bagi para desainer untuk menciptakan produk yang unik dan menarik dengan kualitas tinggi dan tidak pasaran guna memenuhi kebutuhan masyarakat.

(16) Judul : Peningkatan Kualitas Batik Eco-Fashion dengan Pewarna Alami Jalawe (Terminalia bellirica) menggunakan Iradiasi Berkas Elektron 

Penulis : L. Indrayani, M. Triwiswara, W. Andriyati, E. Nuraini

Edisi : Tahun 2020

Kesimpulan : 

eco-fashion atau sustainable fashion merupakan bagian dari filosofi desain tekstil yang berkembang dengan tujuan menciptakan sistem yang mampu mengurangi dampak negatif kegiatan manusia terhadap lingkungan. Dalam penerapan prinsip eco-fashion industri batik harus mengarah pada penerapan prinsip industri hijau dalam proses produksinya. Penggunaan zat warna alami pada industri batik telah banyak dilakukan untuk mengurangi penggunaan zat warna sintetis yang memiliki efek negatif pada lingkungan dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan kulit kayu jalawe (Terminalia bellirica) sebagai zat warna alam (ZWA) pada kain batik dengan menggunakan iradiasi berkas elektron. Metode penelitian yang dilakukan adalah dengan melakukan radiasi pada kain batik menggunakan energi berkas elektron melalui empat variasi waktu iradiasi yang berbeda yaitu 15 detik, 30 detik, 45 detik dan 60 detik dalam proses mordanting pada kain batik untuk dibandingkan dengan menggunakan bahan kimia seperti tawas (Al2(SO4)3), kapur (CaO), dan tunjung (FeSO4). Selanjutnya kain batik yang telah diiradiasi, dilakukan pengujian ketuaan warna dan ketahanan luntur warna untuk mengetahui kualitas kain batik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa iradiasi berkas elektron dapat mempengaruhi ketuaan warna kain batik dan peningkatan kualitas kain batik. Semakin besar dosis iradiasi berkas elektron maka nilai ketahanan luntur kain semakin tinggi, nilai tersebut optimum dicapai pada besaran dosis iradiasi selama 45 detik.

Kesimpulan pada artikel diatas penggunaan teknologi berkas elektron dapat digunakan untuk peningkatan kualitas batik ecofashion. Pengaruh dosis iradiasi, dalam hal ini waktu iradiasi, mempengaruhi kualitas ketuaan dan ketahanan luntur warna batik. Semakin besar dosis iradiasi berkas elektron maka arah warna kain batik akan semakin gelap. Pada uji ketahanan luntur warna batik didapatkan waktu optimal iradiasi yaitu 45 detik dengan besar nilai hasil pengujian mencapai nilai 4 dengan kategori baik dan nilai 4-5 dengan kategori sangat baik. semakin besar dosis iradiasi berkas elektron maka nilai ketahanan luntur kain semakin tinggi.

(17) Judul : Tutur Bumi, Pemajuan Kebudayaan, Art Fashion (Tutur Bumi, The Advancement of Culture, Art Fashion )

Penulis : Tjok Istri Ratna Cora Sudharsana

Edisi : Tahun 2021

Kesimpulan : 

Ekosistem penciptaan produk art fashion Tutur Bumi dibentuk oleh beberapa pokok pikiran yaitu: 1) Fast fashion, 2) Sustainable Fashion, 3) Pemajuan Kebudayaan. Fast fashion identik dengan pemenuhan kebutuhan di industri fashion secara cepat sedangkan sustainable fashion atau sering disebut slow fashion merupakan antithesis dari fast fashion, yaitu: fashion yang menitikberatkan pada proses ramah lingkungan dan humanis. Pemajuan Kebudayaan adalah upaya meningkatkan ketahanan budaya dan kontribusi budaya Indonesia di tengah peradaban dunia melalui perlindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Kesimpulan pada artikel diatas Tutur Bumi, Pemajuan Kebudayaan, Art fashion adalah cara pandang sekaligus tindakan nyata menjawab fenomena degradasi artefak kebudayaan warisan adiluhung para pendahulu kita yaitu wastra Bebali, wastra sarat makna dan filosofi. Ekosistem Tutur Bumi melalui konsep paradoksial, konservasi dan industri art fashion diharapkan dapat menjawab sekaligus sub tema seminar yang melingkupi inovasi desain, revitalisasi desain serta strategi desain.

(18) Judul : Desain Upcycle Pakaian Bekas Sebagai Fashion Berkelanjutan

Penulis : Ainur Rosidah, Ratna Suhartini

Edisi : Tahun 2021

Kesimpulan : 

Berdasarkan artikel diatas maka dapat disimpulkan :

1. Desain upcycle pakaian bekas sebagai fashionberkelanjutan meliputi (Warna, Centre of interest,keselarasan). Dalam desain busana, warna dapat meningkatkan mutu desain, memperindah, membedakan desain sesuai dengan tujuannya, sesuai dengan karakternya. Sebagaimana centre of interest atau pusat perhatian yang menggambarkan jika disebuah desain busana wajib terdapat bagian yang menarik dan selaras sehingga perpaduannya lebih estetik dan kreatif.

2. Teknik upcycle pakaian bekas sebagai fashion berkelanjutan meliputi (menggabungkan, merubah model, dan menghias pakaian bekas). Dimana saat busana sudah digabungkan tidak menghilangkan ciri khas dari masing-masing busana, merubah model dengan cara memotong pakaian bekas sesuai dengan tanda pola, penempatan akhir potongan pola disematkan, dan dijahit tangan setelah desain selesai, dengan penambahan hiasan.

(19) Judul : PENERAPAN KONSEP SYAR’I MODERN PADA DESAIN BUSANA PENGANTIN MUSLIMAH

Penulis : Mayang Tresna Dewi

Edisi : Tahun 2018 

Kesimpulan : 

1. Konsepsi syar'i modern sangat berpeluang untuk diterapkan dalam desain busana pengantin muslimah mengingat desain- desain yang sudah ada masih kurang bervariasi namun permintaan busana pengantin semakin meningkat.

2. Dalam segi desain, busana pengantin muslimah syar'i modern dapat dibuat mengikuti adat dan budaya suatu daerah dan mengikuti perkembangan zaman.

3. Selain syarat berpakaian syar'i yang telah disebutkan diatas, terdapat salah satu unsur syar'i yang diambil pada penelitian ini yaitu menghindari sifat mubadzir. Hal ini dapat dilihat dari fungsi busana yang dapat digunakan selain pada acara pernikahan.

4. Pengembangan dalam segi desain serta peletakan detail dekoratif difokuskan pada bagian khimar, lengan dan rok. Hal ini dikarenakan bagian-bagian tersebut merupakan bagian yang terlihat.

5. Pada penelitian ini, desain yang dibuat menggunakan adat sunda sebagai ciri khas. Namun tidak menutup kemungkinan untuk menggunakan adat istiadat lain pada tema selanjutnya.

(20) Judul : PERFORMA PENCAHAAYAAN DALAM PANGGUNG FASHION SHOW PRODI DESAIN BUSANA SEKOLAH TINGGI DESAIN INTERSTUDI

Penulis : Wido D. Soebagjo,Nadiroh, Achmad Husen, Dewi Rahmawaty, Heru PradanaRohadi, Adjie Suryowanti7

Edisi : Tahun 2022

Kesimpulan : 
Artikel diatas menjelaskan bahwa sebanyak 4 orang (8,5%)memiliki pengetahuan yang baik, 33 orang (70,2%) mempunyai pengetahuan yang cukup dan 10 orang (21,3%) mempunyai pengetahuan yang kurang. Jika dikaitkan dengan teori tingkat pengetahuan menurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan baik jika telah memenuhi 6 tingkatan (tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi), pengetahuan cukup jika telah memenuhi beberapa tingkatan dan pengetahuan kurang jika belum memenuhi tingkatan. dijelaskan bahwa mayoritas desiner pada umur 26-35 tahun sebanyak 26 orang (55,3%), ini sesuai dengan penelitian Djannah (2010) faktor terjadinya preklampsi sebagian besar terjadi pada umur 20-35 tahun (64,4%). Menurut teori yang ada, performace panggu pameran lebih sering menggunakan tipe T,  dikarenakan lebih memeprlihatkan pososo pencahayaan. Mayoritas responden sebagai orang  yang berbisnis fashion atau buyer sebanyak 32 orang (68,1%), sama denganpenelitian Djannah (2010) bahwa mayoritas sampel yang diteliti bekerja sebagai buyer (pengusaha dibidang fashion) (63,5%), hasil tersebut sesuai dalam teori pengetahuan menurut Notoatmodjo (2010) tentang faktor yang memengaruhi pengetahuan salah satunya pekerjaan karena pekerjaan seseorang sangat berpengaruh terhadap proses mengakses informasi yangdibutuhkan terhadap  suatu objek dan juga menurut Klonoff (1989) bahwa Tingkat pendidikan pengusaha di bidang busana (buyer) terbanyak ada pada SMA sebanyak 26 orang (55,3%).

Pada artikel diatas menjelaskan bahwa sebanyak 5 orang (18,51%) mempunyai pengetahuan baik, sebanyak 20 orang (74,07%) mempunyai pengetahuan cukup dan sebanyak 2 orang (7,04%) mempunyai pengetahuan kurang. Jika dikaitkan dengan teori tingkat pengetahuanmenurut Notoatmodjo (2010), pengetahuan baik jika telah memenuhi 6 tingkatan (tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi), pengetahuan cukup jika telah memenuhi beberapa tingkatan dan pengetahuan kurang jika belum memenuhi tingkatan. Mayoritas designer pada umur 20-35 tahun sebanyak 19 orang (70,37), ini sesuai dengan penelitian Djannah (2010 Selanjutnya mayoritas responden bekerja atau pengusaha di bidang busana atau buyer sanyak 19 orang (70,37%), sama dengan penelitian Djannah (2010) bahwa mayoritas pengusaha dibidang busana (buyer).

Pencahayaan depan digunakan terutama untuk visibilitas dan warna. Hal ini juga digunakan untuk mengisolasi seseorang individu atau set piece. Lampu depan umumnya bekerja lebih baik jika ditempatkan pada sudut antara 30-50 derajat. Side Lighting Penggunaan yang paling umum samping efek pencahayaan. Sisi pencahayaan sering  digunakan dengan warna lebih berani untuk aksen gerakan dan warna kontras yang datang dari sisi yang berlawanan. Seiring dengan pencahayaan sisi pencahayaan kembali digunakan untuk efek. Kembali pencahayaan sering digunakan untuk membuat kedalaman di atas panggung.  Ketika digunakan dari sudut kembali pencahayaan rendah juga dapat memberikan rasa siluet. Satu hal yang perlu diingat ketika menggunakan pencahayaan belakang adalah bahwa lampulampu harus santai untuk para penonton. Jika lampu diposisikan ke mata penonton tidak akan menjadi pengalaman yang menyenangkan. Down pencahayaan sering digunakan untuk menciptakan ilusi kedalaman. Pencahayaan  ke bawah juga bekerja sangat baik untuk mengisolasi satu orang dari yang lain. Latar Pencahayaan adalah gaya yang sangat berani pencahayaan. Hal ini lebih cerah dari pada bagian lain panggung. Ini adalah cara yang sangat kuat untuk menciptakan sebuah gambar.



Komentar